1.1 Teori Connectionism Thorndike
Teori Connectionism Edward L. Thorndike ( 1874-1949 ) diperoleh berdasarkan sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku beberapa hewan. Penelitian-penelitian Thorndike tersebut pada dasarnya difokuskan untuk mengetahui apakah hewan tersebut mampu memecahkan suatu masalah menggunakan“reasoning” atau akal.
Percobaan yang dilakukan bertujuan agar hewan tersebut dapat keluar dari kandang untuk memperoleh makanan yang berada di luar kandang. Untuk keluar dari kandang hewan-hewan tersebut harus membuka pintu dengan mekanisme lolos yang sengaja dirancang. Pada saat dikurung, hewan-hewan tersebut menunjukan sikap agresif seperti mencakar, menggigit, menggapai, dan bahkan mengais dinding kandang. Cepat atau lambat, setiap hewan akan membuka pintu sehingga dapat keluar dari kandang dan memperoleh makanan. Pengurungan yang dilakukan berulang-ulang menunjukan penurunan frekuensi hewan tersebut untuk melakukan pencakaran, penggigitan, penggapaian, atau pengaisan dinding kandang, dan tentu saja waktu yang dibutuhkan untuk keluar kandang cenderung menjadi lebih singkat.
Berdasarkan penelitiannya, Thorndike menyimpulkan bahwa respon untuk keluar kandang secara bertahap diasosiasikan dengan suatu situasi yang menampilkan stimulus dalam suatu proses coba-coba (“trial and error” ). Respons yang benar secara bertahap diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak benar melemah atau menghilang.
“Menurut Thorndike, asosiasi S-R yang benar diperkuat dan asosiasi yang tidak benar diperlemah karena konsekuensi-konsekuensi dari tindakan organisme tersebut. Pandangan Thorndike dinamakan teori S-R karena perilaku organisme tersebut disebabkan hubungan antara sebuah stimulus dengan sebuah respons”. (John W. Santrock, 2009)
Thorndike mengemukakan tiga dalil tentang belajar, yaitu:
1. law of effect (dalil sebab akibat)
Dalil sebab akibat menyatakan bahwa situasi atau hasil yang menyenangkan yang diperoleh dari suatu respons akan memperkuat hubungan antara stimulus dan respons atau perilaku yang dimunculkan. Sebaliknya, situasi atau hasil yang tidak menyenangkan akan memperlemah hubungan tersebut.
2. law of exercise ( dalil latihan/pembiasaan )
Dalil latihan/pembiasaan menyatakan bahwa latihan akan menyempurnakan respons. Adanya pengulangan situasi atau pengalaman akan meningkatkan kemungkinan munculnya respons yang benar. Walaupun demikian pengulangan situasi yang tidak menyenangkan tidak akan membantu proses belajar.
3. law of readiness ( dalil kesiapan )
Dalil kesiapan menyatakan kondisi-kondisi yang dianggap mendukung pemunculan respons. Jika siswa sudah siap ( sudah belajar sebelumnya ) maka ia akan siap untuk memunculkan suatu respons atau dasar stimulus/kebutuhan yang diberikan. Hal ini merupakan kondisi yang menyenangkan bagi siswa dan akan menyempurnakan pemunculan respons. Sebaliknya, jika siswa tidak siap memunculkan respons atau stimulus yang diberikan atau siswa merasa terpaksa memberi respons maka siswa mengalami kondisi yang tidak menyenangkan yang dapat memperlemah pemunculan respons.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukannya, Thorndike lalu menyimpulkan tentang pengaruh proses belajar tertentu terhadap proses belajar berikutnya, yang dikenal dengan proses “transfer of learning” atau perampatan proses belajar. Thorndike mengemukakan bahwa pelatihan yang dilakukan dan proses belajar yang terjadi dalam mempelajari suatu konsep akan membantu penguasaan atau proses belajar seseorang terhadap konsep lain yang sejenis atau mirip (associative shifting ). Teori Connectionism dari Thorndike ini dikenal dengan teori belajar yang pertama.
1.2 Teori Operant Conditioning Skinner
Teori ini merupakan teori yang menjelaskan bahwasannya bentuk pembelajaran bergantung pada konsekuensi-konsekuensi yang didapat sebagai hasil dari suatu respons terhadap stimulus pembelajaran. Berikutnya akan dapat menghasilkan perubahan perilaku-perilaku sebagai hasil dari konsekuensi tersebut.
Menurut Skinner (J.W. Santrock, 2009) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Menurut Skinner, penguatan dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Penguatan positif adalah penguatan yang berdasarkan pada prinsip bahwa frekuensi dari pada sebuah respons akan meningkat karena diikuti dengan stimulus yang dapat mendukung suatu perilaku atau dengan kata lain stimulus tersebut mengandung penghargaan (rewarding). Contoh penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, kue, dll), perilaku (senyum, bertepuk tangan, dan mengacungkan jempol), atau penghargaan (memberi nilai yang tinggi).
b. Penguatan negatif, adalah penguatan yang didasarkan pada prinsip bahwa frekuensi dari respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang tidak menyenangkan dan ingin dihilangkan (Frieman, 2002). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Salah satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan negatif adalah dalam penguatan positif, ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.
Contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W Santrock, 2009).
| A.Penguatan positif | ||
| Perilaku Murid mengajukan pertanyaan yang bagus | Konsekuensi Guru menguji murid | Prilaku kedepan Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan |
| B.Penguatan negatif | ||
| Perilaku Murid menyerahkan PR tepat waktu | Konsekuensi Guru berhenti menegur murid | Prilaku kedepan Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu |
| C.Hukuman | ||
| Perilaku Murid menyela guru | Konsekuensi Guru mengajar murid langsung | Prilaku kedepan Murid berhenti menyela guru |
| Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu, konsekuensi meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang. | ||
Disamping itu, ada pun dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Dalam kelas, penggunaan extinction yang paling umum bagi guru adalah menghentikan perhatian dari sebuah perilaku yang dipertahankan oleh adanya perhatian tersebut.